Penyakit itu kembali “terwariskan”….
Setiap pulang kantor biasanya kami disambut dengan senyum dan sapaan khas darinya. Meskipun sapaannya masih terdengar samar-samar dan tak begitu jelas, namun kami yakin saat itu dia sedang berusaha untuk memanggil “Ayah, Bunda”, sambil langsung berlari-lari meminta dipeluk.
Sapaannya selalu membuat rasa penat kami yang seharian sibuk bekerja dan selalu berkutat dalam kemacetan lalu lintas perjalanan Bekasi-Jakarta-Bekasi yang teramat pekat, luluh secara tiba-tiba, bahkan selalu berganti menjadi sebuah keceriaan yang tak terkira.
Memang tak seperti biasanya, sore menjelang malam itu (11/09/08), ketika kami pulang kantor tak terdengar sapaan khasnya, kami hanya berpikir “barangkali ia sedang tertidur pulas dikamar”. Namun saat masuk kamar, kami dapati ia sedang terbaring tidur dengan mata tak terpejam, sambil menahan kesakitan akibat “flu dan batuk” dengan detak nafas yang berpacu begitu cepat.
Sebenarnya, sejak dua hari terakhir ia sudah mulai memiliki gejala batuk, namun tak begitu parah dan sembuh setelah diberi obat yang memang sengaja kami simpan dari dokternya, untuk sekedar berjaga-jaga. Hari Kamis siang itupun pengasuhnya telah menyampaikan kondisi batuknya yang semakin menjadi, namun kami tak menyangka bahwa nafasnya menjadi begitu tersengal-sengal, dan ini adalah yang terparah semenjak divonis oleh dokter ia memiliki bakat “penyakit asma turunan”.
“Sejak usianya menginjak 8 bulan-an memang dokter sudah memperingatkan adanya gejala asma yang turun temurun diwariskan oleh kakek, ayah, bahkan saya sendiri yang memang memiliki bakat penyakit yang menyebabkan kita kesulitan bernafas tersebut. Namun, sepanjang hidup saya hingga saat ini, hanya sekali saja mengalami trauma penyakit tersebut, tepatnya saat berada dikampung mertua di Kuningan, Jawa Barat (maklum, cuaca dilereng gunung ceremai tersebut lumayan dingin).
Sesaknya dada memang sangat terasa sekali, nafaspun begitu pendek dan pengap, hampir-hampir saya tak bisa bernafas, tak terbayangkan kesakitan yang saya alami saat itu, kini dialami juga oleh putra saya tercinta yang masih berusia 1 tahun 3 bulan. Jika boleh memilih, lebih baik saya saja yang menggantikan kesakitannya tersebut, rasanya tak tega melihat nafasnya yang berdetak begitu cepat.
Ketika penyakit tersebut kambuh, sebenarnya sangat menyiksa sekali, namun saya tidak pernah meratapi penyakit turunan tersebut, mengingat sejak lahir hingga saat ini, saya yakin Allah pasti memberikan lebih banyak anugerah ketimbang musibah, yang saya lakukan adalah mencoba untuk berpikir positif sambil tetap berusaha berjuang untuk meminimalisir penyakit tersebut agar tidak menjadi semakin parah.”
Mendapati anak kami dalam kondisi nafas yang tersengal-sengal, akhirnya kami memutuskan untuk segera melarikannya ke rumah sakit terdekat, tepatnya di R.S. Hermina, Bekasi. Setelah ditangani oleh dokter spesialis fisioterapi dan dilakukan “terapi uap”, Alhamdulillah kondisinya mulai agak membaik, meskipun nafasnya masih sedikit tersengal-sengal (terapi tersebut sebenarnya bukan kali pertama bagi anak kami, karena sejak usianya mencapai 8 bulan, ia telah beberapa kali melakukan terapi tersebut).
Setelah itu, kami pulang menuju rumah untuk beristirahat, namun berselang waktu tiga jam kemudian, menjelang tengah malam, tepatnya sekitar jam 23.00 WIB, saat kami sedang terlelap tidur kembali gejala tersebut meradangnya lagi, bahkan lebih parah dari sebelumnya.
Melihat kondisinya tersebut, kami memutuskan untuk kembali membawanya ke RS. Hermina, dan kali ini ditangani oleh dokter jaga yang sedang bertugas pada bagian Instalasi Gawat Darurat (IGD). Setelah kembali dilakukan “terapi uap”, kondisinya kembali sedikit membaik, namun nafasnya masih tetap tersengal-sengal, akhirnya atas rekomendasi dokter jaga yang menanganinya, kami memutuskan untuk melakukan “rawat-inap”.
Semua orang tua pasti tidak akan tega melihat kondisi anaknya yang sedang menahan kesakitan dengan nafas yang sangat menyiksa. Sambil menunggu proses administrasi rawat-inap, tim medispun mulai memasang bantuan oksigen yang melintas masuk ke hidungnya.
Setelah mendapatkan kamar rawat-inap, satu persatu peralatan medis dan obatpun mulai di suntikan. Impusan sebagai pengganti supply makanan dan minumanpun tidak lupa disuntikan pada bagian lengan kiri anak kami. Tindakan apapun yang dilakukan oleh tim medis rumah sakit saat itu pasti kami perkenankan selama itu bertujuan untuk meredakan kesakitannya.
Hari pertama (12/09/08) kami lalui dengan penuh kecemasan, mengingat kondisinya yang tak kunjung membaik. Secara bergantian semalam suntuk kami menjaganya sambil tetap berdo’a dalam hati agar kesakitannya segera diredakan oleh Allah SWT, begitupun hari kedua (13/09/08) yang tak begitu jauh berbeda dengan kondisi malam sebelumnya, dan hanya dilakukan suntik ulang pada lengan kanannya akibat terjadinya kemacetan aliran impusan yang masuk ke pembuluh darah lengan sebelah kiri.
Malam ketiga (14/09/08), kondisinya mulai agak membaik hingga kamipun bisa menjadi lebih tenang untuk menjaganya. Kondisi tersebut terus menerus berlangsung hingga esok harinya. Satu persatu impusan-pun mulai dilepaskan pada pagi harinya oleh tim medis, mulai dari impusan cairan pengganti supply makanan dan minuman, impusan oksigen sebagai alat bantu pernafasan dan yang terakhir pada malam harinya adalah impusan obat pelega pernafasan.
“Alhamdulillah ya Rob, semua doa kami untuknya akhirnya Engkau kabulkan, dan saat ini kami kembali melihat senyum cerianya”. Rasanya bahagia sekali melihatnya sudah mulai tersenyum kembali, menyapa, dan bebas dari semua peralatan medis di rumah sakit yang seakan memenjarakan semua kebebasannya untuk bermain lepas.
Lepasnya impusan rupanya benar-benar membahagiakannya, ia bisa bergerak dengan bebas kesana kemari seakan ingin menunjukkan kebebasannya saat itu. Kesempatan itu tidak dilewatkan begitu saja olehnya, ia bermain sendirian dengan “kenakalan” khasnya hingga lewat tengah malam. Ia berjalan kesana kemari mengajak kami yang sudah mulai kelelahan mengikuti kemauannya untuk terus bermain hingga malam semakin larut.
Hari ke-empat (15/09/08), mengingat kondisi kesehatannya yang sudah mulai normal kembali, dokter akhirnya mengijinkannya pulang, namun dengan tetap melakukan “rawat-jalan”. Berangkat dari pengalaman tersebut, Insya Allah kami akan berusaha untuk lebih memperhatikan kondisi kesehatannya, terutama dalam hal pencegahan pencetus kambuhnya kembali gejala penyakit asma yang dimilikinya, karena kami sangat menyayangi dan mencintainya.
Berikanlah kami kesempatan untuk merawat titipan-Mu dengan sebaik-baiknya Ya, Rob……, agar kelak ia bisa menjadi anak yang soleh, berbakti bagi agama, orang tua dan sesamanya. Jadikanlah ia sebagaimana yang kami harapkan melalui goresan sebuah nama “EARLY MAHARDIKA PUTRA YULYANTO”, seorang pemimpin agung yang berjiwa mulia, cerdas dan berbudi luhur, Amin………
Bekasi, 16 September 2008



September 17th, 2008 at 3:59 pm
Yah Leek… jadi pengen nangisss.. Cediiiihhh…
Padahal aku tadi ingin liat foto Early yg lagi ketawa2.. Yang ada malah foto Early di rumah sakit.. Kaciaaann…, ga tega liatnya, pake dinfus segala..
Ternyata anakmu abis sakit ya..?? Sorry ya, aku tadi ndak tau lho, klo Early sakit.
Semoga penyakit bawaan yg difonis dokter itu, ga akan pernah kambuh lagi ya, sampai kapanpun..
Buat Early cayang, meskipun kita blm pernah ketemu, Tante Dq doain, cepet cembuh ya cayang… cehat celalu.. Jangan buat Ayah n Bunda cedih ya.. mmmuah..!!
September 17th, 2008 at 4:13 pm
Makasih banyak ya tante dq, emang sedih bangeet rasanya melihat anak kita tersiksa karena penyakitnya, tapi don’t worry be happy sekarang EARLY dah bisa tertawa ceria lagi kok……..
September 22nd, 2008 at 10:00 am
Mas Yul.
Turut prihatin atas sakitnya Early. Tetap tabah dan sabar ya. Memang begitulah salah satu romantika menjadi orangtua
September 22nd, 2008 at 4:30 pm
Thanks ya mas,
Insya Allah ga kambuh lagi, kasihan ngeliatnya…….
March 4th, 2010 at 10:42 pm
Tetap sabar dan tawakal, ini ujian dari Allah agar Mas Yul semakin Takwa.
salam
Omjay