Krisis Moneter Jilid II? Mungkinkah?
Ketika membaca sebuah tulisan dari seorang wartawan senior kompas yang kebetulan juga rekan sesama blogger (kang Pepih Nugraha) mengenai “Andai Rupiah Tembus 10.000/ Dollar AS” di www.kompasiana.com, saya langsung tergerak untuk memberikan sedikit komentar. Berikut ini adalah kutipan beritanya yang menurut saya cukup menarik untuk dibaca, disimak dan dipikirkan bersama-sama solusinya (thanks buat kang Pepih yang sudah mengijinkan tulisannya untuk dimuat di blog saya ini):
Andai Rupiah Tembus 10.000/Dollar AS?
October 7th, 2008 by Pepih Nugraha
KEMARIN nilai tukar rupiah turun mencapai 9.700 terhadap dollar AS. Ini penurunan tajam dibanding sehari sebelumnya yang masih berada di kisaran 9.550. Penurunan terjadi akibat pelaku pasar aktif memborong dollar AS yang khawatir dengan gejolak krisis keuangan dunia.
Apa yang harus dilakukan saat rupiah menembus “angka psikologis” 10.000 per dollar AS atau bahkan lebih melorot lagi hingga mencapai Rp 15.000? Kalau ini terjadi, bukankah Krismon jilid 2 akan segera melanda negeri ini? Apakah BI cukup dengan upaya menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) untuk mengatasi krisis ini?
Apa yang harus dilakukan pelaku pasar, pengusaha kecil, pebisnis media, dan bahkan masyarakat umum menghadapi kemungkinan melorotnya nilai tukar rupiah terhadap dollar yang lebih parah lagi? Perlukah masyarakat menahan dollar yang dimilikinya atau membeli dollar sebanyak-banyaknya dari sekarang untuk kemudian dijual lagi saat krisis benar-benar terjadi? Bagaimana mencegah Krismon babak kedua yang mungkin terjadi secara keseluruhan? Apa solusi yang ditawarkan buat pemerintah untuk mencegah Krismon babak berikutnya yang mungkin saja lebih menyengsarakan rakyat?
Kami mengundang blogger Kompasiana, baik yang berlatar belakang ekonomi seperti Andi Suruji, Tjahja Gunawan, Joice Tauris Santi, Dedi Muhtadi, Anton Sanjoyo, Banu Astono, dan blogger Kompasiana lainnya yang meski tidak berlatar belakang ekonomi, punya perhatian dan minat terhadap masalah ini. Pemikiran berisi solusi liar sekalipun, yang mungkin berbeda dengan yang ditawarkan media mainstream, akan sangat bermanfaat bagi para pembaca Kompasiana.
Kami juga mengundang para pembaca Kompasiana untuk turut memberi pandangan masing-masing melalui komentar pada setiap postingan yang muncul mengenai masalah ini. Solusi alternatif para pembaca Kompasiana juga sama berartinya, apalagi jika menyangkut pandangan baru yang selama ini belum/tidak ada. Tidak tertutup kemungkinan, komentar yang paling menarik dinaikkan menjadi postingan baru yang tampil di halaman depan Kompasiana.
Silakan menulis dan memberi solusi lewat postingan (bagi penulis Kompasiana) dan komentar (bagi pembaca Kompasiana) masing-masing. Mari berdiskusi dan urun saran atas kemungkinan terjadinya Krismon babak baru dan bagaimana upaya mencegahnya!
Weleh-weleh, kang Pepih sudah mulai menjadi pemerhati ekonomi juga sekarang?
Jika kondisi perekonomian dunia, khususnya krisis financial di Amerika Serikat (AS) tak kunjung membaik bukanlah hal yang mustahil, kekhawatiran mas Pepih terhadap kemungkinan terdepresiasinya rupiah menuju level Rp. 15.000 per dollar AS (bahkan lebih) akan kembali terjadi, seperti krisis moneter yang melanda negeri kita pada tahun 1997 silam.
Saat ini negara AS sedang membutuhkan banyak dollar untuk membantu mengatasi kemacetan liquiditas sektor finansialnya, sebagai efek dari anjloknya “subprime mortgage” pada sektor properti yang kemudian berlanjut pada “prime mortgage” dan bangkrutnya beberapa perusahaan raksasa dalam bidang keuangan dan investasi seperti Lehman Brothers dan Merril Linch.
Meningkatnya demand terhadap dollar AS dipastikan akan membuat pasar finansial yang memperdagangkan dollar AS kewalahan akibat supply yang semakin menipis. Akibat lanjutannya adalah akan berlaku “hukum ekonomi”, dimana jika demand yang meningkat tidak dibarengi dengan ketersediaan supply yang mencukupi, maka harga akan melonjak naik hingga batas tertinggi yang tidak bisa diprediksikan.
Upaya Bank Indonesia (BI) dengan menaikkan acuan tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) atau yang lebih populer disebut dengan istilah “BI-rate” menjadi 9.5% untuk menekan laju inflasi, juga akan berkorelasi negatif terhadap pertumbuhan iklim investasi dan sektor riil.
Naiknya “BI-rate” akan berdampak terhadap kenaikan tingkat suku bunga deposito dan kredit perbankan, akibatnya banyak investor pasar modal memindahkan dana mereka ke deposito-deposito serta instrumen perbankan lainnya yang dianggap lebih menguntungkan ketimbang berinvestasi di pasar modal.
Terkait dengan kekhawatiran akan terjadinya krisis moneter jilid II sebagaimana disampaikan oleh kang Pepih, adalah merupakan sebuah “keniscayaan” dan realita yang akan kita hadapi jika kondisi perekonomian global semakin terpuruk. Mengedukasi masyarakat untuk “mencintai rupiah” rasanya sudah tidak cukup ampuh untuk mengurangi para penumpuk dollar di negara kita.
Memang tidak semudah yang kita bayangkan, karena jika melihat dari sisi teoritis dimana untuk mengukur tingkat pendapatan nasional (salah satu indikator ekonomi) secara sederhana digunakan konsep sebagai berikut: Y=C+I+G+(X-M), dimana C menggambarkan “pengeluaran konsumsi”, I menggambarkan “pengeluaran investasi”, G merupakan “pengeluaran pemerintah”, X merupakan nilai “ekspor” dan M merupakan nilai “impor”. Gampangnya, untuk meningkatkan pendapatan nasional adalah cukup dengan meningkatkan konsumsi dan investasi di masyarakat dan pemerintah, kemudian juga dengan menggalakkan sektor ekspor dan menekan laju impor.
Praktisnya agak sulit memang, karena biasanya “praktis tak seindah teoritis”, tapi paling tidak kita dan pemerintah bisa lebih realistis untuk kembali mempertimbangkan solusi klasik untuk terus menerus menggalakkan pengembangkan sektor-sektor pada Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dengan orientasi ekspor (X) yang lebih terencana, dimana akan berdampak langsung terhadap peningkatan pendapatan nasional karena mendatangkan cadangan devisa bagi negara.
Selain itu, dengan sumber daya alam yang kita miliki saat ini rasanya tidak terlalu sulit (jika mau) bagi kita untuk mengurangi ketergantungan impor (M) produk dari negara lain, yang pada akhirnya juga akan mengurangi pengeluaran cadangan devisa yang kita miliki untuk meningkatkan pendapatan nasional.
Pastinya: “BERSAMA KITA BISA”…………..
(sumber: www.kompasiana.com)



November 23rd, 2008 at 2:30 am
salam sejahtera,pak! maen-maen ke blogku dong. aku pengen dkritik ma bapak. thank’s. ini alamatnya: jcnoor007.blogspot.com