Baca, Lihat, dan Jawablah, Masihkah Anda Mau Berperang???…
Selain kasus Manohara, maraknya pemberitaan mengenai kepulauan Ambalat belakangan ini telah memicu ketegangan yang terjadi antar dua negara, yakni Indonesia dan Malaysia. Menurut saya, bagaimanapun juga, kasus Ambalat ini jauh lebih penting ketimbang nasib tragis yang “katanya” telah menimpa sang wanita cantik nan sexy yang bernama lengkap Manohara Odelia Pinot.
Ada banyak pendapat, baik dari masyarakat umum maupun para pejabat yang menginginkan agar Indonesia memerangi Malaysia untuk membuktikan kedaulatan Indonesia atas blok Ambalat yang banyak mengandung kekayaan alam tersebut.
Secara emosional dan dengan melihat fakta yang ada, awalnya sayapun berpendapat bahwa Malaysia memang sudah benar-benar keterlaluan, bahkan terkesan melecehkan kedaulatan wilayah bangsa Indonesia, oleh karena itu sudah sewajarnya pula jika diberikan pelajaran, bahkan dengan cara “perang” sekalipun.
Namun, berangkat dari rasa emosional tersebut saya mencoba untuk berpikir lebih jernih dengan menggunakan logika yang akan mendukung saya untuk lebih memahami dan mengiyakan maraknya pernyataan untuk “perang terhadap Malaysia”. Hasilnya, tidak ada satupun argumen saya yang mengiyakan kondisi “perang” terhadap siapapun, termasuk juga dengan Malaysia.
Salah satu argumen yang menguatkan keyakinan saya untuk tidak mengiyakan “perang” terhadap Malaysia ikut dipengaruhi oleh pemikiran sebuah situs www.dibalikperang.com, yang dibuat oleh Adnan Oktar atau yang lebih kita kenal dengan panggilan Harun Yahya, seorang da’i dan ilmuwan terkemuka asal Turki.
Mari Kita Menengok Sebentar Kebelakang…….
Secara keseluruhan, Perang Dunia I (1914-1918) dan Perang Dunia II (1939-1945) telah menelan korban lebih dari 90 juta jiwa. Sekitar separuh dari korban ini adalah warga sipil yang “tidak ada hubungannya” dengan kedua perang ini. Anak-anak, wanita, dan orang tua yang tak berdaya sama-sama dibantai secara kejam.
Menurut Harun Yahya, keganasan dibalik Perang Dunia I dan II tersebut dilatarbelakangi oleh sebuah pemahaman mengenai teori “Darwinisme Sosial”. Dalam teorinya, yang kemudian terbukti keliru, dinyatakan bahwa: “semua mahluk di alam terlibat dalam pertarungan untuk bertahan hidup. Darwin menyatakan bahwa manusia adalah bentuk lanjutan dari hewan yang memenangkan pertikaian”.
Sejarah Perang Dunia I membuktikan bahwa para penguasa Eropa percaya bahwa peperangan, pertumpahan darah, penderitaan, dan membuat orang lain menderita semuanya adalah sebuah bagian dari “hukum alam”. Teori Evolusi Darwin-lah yang telah mendorong seluruh generasi masuk ke dalam keyakinan yang keliru ini.
Sementara itu dalam Perang Dunia II, paham Nazi tidak lain merupakan sebuah refleksi penafsiran terhadap Darwinisme Sosial. Hitler sendiri telah menggunakan pandangan “pertarungan ras untuk bertahan hidup” yang merupakan dasar teori Darwin. Dalam riwayat hidup Hitler yang ditulis melalui, “Mein Kampf (Perjuanganku)”, terlihat sekali penyesuaian atas gagasan Darwin tentang “Perjuangan Bertahan Hidup”.
Menurut Hitler, ras Aria bangsa Jerman berada di puncak tangga evolusi dan mereka berhak memimpin ras yang lain. Agar pandangan ini menjadi kenyataan, mereka butuh perang yang lain lagi, yaitu perang yang akan membuat Jerman menjadi penguasa di seantero dunia.
Perang Indonesia-Malaysia?
Apakah terlalu jauh jika kasus Ambalat dibandingkan dengan Perang Dunia I dan II? Tidak juga, apapun alasannya “perang” ya, tetap “perang”. Kedua tragedi kemanusiaan (perang) diatas, menunjukkan bahwa “perang” bukanlah semata-mata akibat pertikaian kepentingan yang wajar antar-negara, karena pertikaian semacam itu sebenarnya dapat diselesaikan melalui jalur perundingan.
Penyebab “perang” sebenarnya adalah sebuah ideologi manusia, yang membuat keputusan untuk mengejar ideologi tersebut. Ini adalah sebuah ideologi yang menganggap bahwa pertempuran, pertumpahan darah, dan menimbulkan penderitaan sebagai unsur sifat dasar manusia, dan inilah penyebab nyata sebuah kekejaman.
Tidak ada satupun permasalahan dimuka bumi ini yang tidak bisa diselesaikan secara “damai”, “perang” adalah sebuah refleksi keangkuhan para penguasa yang ingin mengedepankan sifat egoisme ketimbang rakyatnya.
“Perang” adalah perantara kekejaman yang besar yang sama sekali tidak bermanfaat bagi pribadi atau pun bagi masyarakat. “Perang” adalah sebuah malapetaka sosial yang menimbulkan kepedihan besar dan menorehkan luka yang mendalam kepada manusia, dan pastinya akan memerlukan waktu yang lama untuk menyembuhkannya.
Cobalah klik link berikut ini, renungkan dan gunakan hati nurani anda, lalu pikirkanlah!… jika kondisi ini terjadi pada keluarga Anda, masihkan Anda menginginkan “perang” untuk menyelesaikan kasus Ambalat antara Indonesia dan Malaysia???……
Semoga bermanfaat……………..
“Love and Peace”
Please also visit this article at:
http://public.kompasiana.com/2009/06/10/baca-lihat-dan-jawablah-masihkah-anda-mau-berperang/



June 13th, 2009 at 5:12 am
Hey, nice post, really well written. You should write more about this. I’ll certainly be subscribing.