Photo ini diambil dilokasi sekitar pintu keluar Perumahan Bumi Anggrek, tepatnya di depan SDN Karang Satria, Bekasi. Semua orang berangkat bersamaan dipagi hari untuk memulai segala aktivitas-nya diawal minggu yang cerah. Kemacetan di sudut-sudut wilayah Bekasi terkadang menjadi momok yang tak pernah berujung, mudah-mudahan saja pemerintahan setempat bisa lebih memperhatikan kondisi tersebut.
Belajar Menciptakan “Sebuah Konsep” dari “Menara Eiffel”
PHOTO by YULYANTO
“Menara Eiffel” yang kita kenal saat ini merupakan sebuah monumen yang paling bersejarah, sekaligus merupakan sebuah “Ikon” kebanggaan bagi masyarakat Perancis. Kota Paris yang menjadi tempat berdirinya sang “Ikon” tersebut, kini terus berkembang dan mendunia seiring dengan semakin banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Paris. “Menara Eiffel” bagaikan sebuah “Medan Magnet” yang tidak akan pernah berhenti untuk menyedot para wisatawan untuk terus berkunjung kesana. Sejak resmi dibuka untuk umum pada tahun 1889 hingga tahun 2002 saja, terhitung sudah lebih dari 200 juta jiwa wisatawan yang mengunjungi Kota Paris hanya untuk melihat kemegahan sang-ikon, “Menara Eiffel”.
Masih ingat dengan judul film “Eiffel, I’m in Love”..? Ya, itu adalah sebuah judul film layar lebar karya sutradara Nasri Cheppy, yang mengadopsi cerita dari novel best seller karya Rachmania Arunita. Setelah kesuksesan film layar lebar “Ada Apa Dengan Cinta (AADC)”, menurut saya film ini juga termasuk salah satu dari film layar lebar bertema sejenis yang cukup sukses dipasar perfilman Indonesia, mengingat banyak remaja pada masanya yang cukup menggandrungi film tersebut.
Sesuai dengan judulnya, “Eiffel, I’m in Love” mengambil latar belakang lokasi syuting yang bertempat di monumen paling bersejarah dan sangat fenomenal, “Menara Eiffel” di Kota Paris (Perancis) yang juga merupakan salah satu primadona pariwisata di salah satu kawasan uni-Eropa tersebut.
Selain lokasi syutingnya, soundtrack hasil besutan dari pasangan musisi Melly Guslaw dan Anto Hoed juga mampu membuat film yang diperankan oleh bintang berbakat Sandy Aulia dan Samuel Rizal tersebut benar-benar berhasil membawa para penonton kedalam aura kehangatan negeri Perancis dimana “Menara Eiffel” berdiri dengan megahnya.
Pesatnya perkembangan blogging media dan peluangnya selama 3 (tiga) tahun terakhir ini, mampu diserap dan ditangkap dengan baik oleh seorang jurnalis senior Kompas yang juga seorang blogger, Pepih Nugraha, yaitu dengan memprakarsai berdirinya sebuah kanal blog keroyokan bernama Kompasiana.com.
Sejak Kompasiana.com didirikan setahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 22 Oktober 2008 hingga saat ini, nama Pepih Nugraha selalu melekat dan identik dengan nama Kompasiana.com, bahkan (menurut saya) melebihi popularitasnya sendiri sebagai seorang jurnalis mainstream media pada halaman Kompas.
“Sebuah kerjakeras dan usaha tanpa diiringi oleh doa adalah sia-sia belaka!”. Alhamdulillah kami menjalankan kedua-duanya, terkait dengan rencana akan dilaksanakannya launching komunitas blogger yang pertama di Kota Bekasi (www.bloggerbekasi.com) pada tanggal 17 Oktober 2009 mendatang.
Selain publikasi melalui, spanduk, brosur dan blogging media, Insya Allah hari ini, Minggu (11 Oktober 2009), jam 14.00WIB – 15:00WIB, beberapa pengurus http://bloggerbekasi.com (Be-Blog), diantaranya Wijaya Kusumah (Penasehat Be-Blog), Aris Heru Utomo (Ketua Be-Blog) dan saya sendiri, Yulyanto (Sekretaris Be-Blog) akan memenuhi undangan Radio Dakta (107FM) dalam sebuah acara talkshow mengenai apa dan bagaimanahttp://bloggerbekasi.com itu, serta persiapan menjelang acara launching pada tanggal 17 Oktober 2009 mendatang.
Minggu lalu, berita cukup mengejutkan sampai dihalaman inbox email saya (22/09/09). Isi beritanya adalah mulai awal Oktober 2009 mendatang, Budi Putra yang menurut situs OhMyNews disebut sebagai Indonesia’s First Full-time Blogger, dan juga merupakan CEO dari PT Asia Blogging Network (ABN), tempat kami (para blogger ABN) ngeblog dua tahun terakhir ini mengumumkan dirinya secara resmi akan bergabung dengan Yahoo! Indonesia sebagai Country Editor. Posisi ini merupakan salah satu posisi favorit dan sangat strategis dimana Budi Putra akan menangani masalah konten dan komunitas Yahoo! di Indonesia.
Sebuah pencapaian prestasi yang luar biasa memang, karena Yahoo!, sebuah perusahaan berkelas dunia tidak mungkin menunjuk sembarang orang untuk menduduki posisi strategis tersebut. Kiprah dan karya seorang Budi Putra dalam dunia internet, khususnya dalam dunia blog memang sudah tidak diragukan lagi. Ia bahkan satu-satunya orang Indonesia yang ditunjuk oleh The Bobs untuk menjadi salah satu juri internasional dalam Blog Award berskala international di Jerman tahun lalu (2008).
Bulan Ramadhan merupakan bulan penuh rahmat, maghfirah, dan penyelamat dari api neraka. Hal ini sebagaimana terungkap dalam khutbah Rasulullah S.A.W., diakhir bulan Sya’ban, dan juga sebagaimana pernah diceritakan kembali oleh Salman Al-Farisi: “Dan ia (Ramadhan) adalah bulan yang awalnya merupakan rahmat, pertengahannya merupakan ampunan, dan akhirnya sebagai pembebas dari api neraka”.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, sholat sunnat Tarawih adalah salah satu hal sunnat yang akan kita laksanakan sebelum menjalankan ibadah puasa pada keesokan harinya. Hari pertama menunaikan sholat sunnat Tarawih (21/08/09) di “Masjid Agung Al-Barqah” adalah yang pertama kali juga bagi saya memasuki ruangan dalam masjid yang saat ini telah menjadi salah satu kebanggaan religius (icon) bagi masyarakat Kota Bekasi.
Dengan tampilan yang cukup menawan dan artistik, terletak dipusat pemerintahan kota, tepatnya di Alun-Alun Kota Bekasi, tempat sebagian besar masyarakat Kota Bekasi menghabiskan waktu untuk bersantai, berolah raga atau (mungkin) hanya sekedar “cuci mata” saja, menjadikan Masjid Agung ini semakin terlihat sangat megah pada kawasan tersebut.
Sholat sunnat pada “Masjid Agung Al-Barqah” yang di-imami oleh Al-Hafidz (hafal 30 juz, Al-quran) Ustadz Abdul Rohman dilaksanakan sebanyak 23 (dua puluh tiga) raka’at, yang terdiri atas 20 (duapuluh) raka’at sholat sunnat Tarawih dan 1 (satu) raka’at-nya adalah sholat sunnat Witir. Namun demikian diberikan kebebasan bagi para jamaah yang hanya ingin melaksanakan 11 (sebelas) raka’at saja, dimana 8 (delapan) raka’at-nya adalah sholat sunnat Tarawih sedangkan 3 (tiga) raka’at lainnya merupakan sholat sunnat Witir.
Masalah perbedaan jumlah raka’at ini bukanlah sesuatu hal yang perlu diperdebatkan, karena Rasulullah SAW pernah melakukan sholat sunnat Tarawih hanya sebanyak 8 (delapan) raka’at saja, sementara itu Umar bin Khatab juga pernah mengerjakan sholat sunnat Tarawih hingga 20 (duapuluh) raka’at, dalam Islam keduanya sahih dan boleh dilaksanakan.
Yang seharusnya menjadi perhatian bagi kita sebagai sesama umat muslim adalah nilai ke-khusyukan dalam menjalankan ibadah sholat sunnat Tarawih menjadi sedikit agak terganggu. Coba saja Anda bayangkan, setelah salam terakhir pada raka’at kedelapan, sebagian jamaah masjid masing-masing segera bergegas meninggalkan shaft sholatnya untuk kemudian melanjutkan sholat sunnat Witir dalam shaft terpisah dalam satu masjid yang sama.
Jadi, ada banyak kelompok jamaah yang melaksanakan sholat sunnat Witir ditengah-tengah khusyuk-nya jamaah lain yang juga sedang melaksanakan sholat sunnat Tarawih. Hal inilah yang tampaknya terjadi pada “Masjid Agung Al-Barqah”, tempat saya singgah selepas pulang kantor, untuk menunaikan sholat sunnat Tarawih pertama sebelum menjalankan ibadah puasa pada hari ini (22/08/09).
Adalah hal yang salah (mungkin) jika pengurus “Masjid Agung Al-Barqah” mengharuskan jamaah-nya untuk ikut sesuai aturan mereka, yaitu melaksanakan sholat sunnat sebanyak 23 (dua puluh tiga) raka’at, namun tak ada salahnya juga diberikan semacam himbauan kepada para jamaah-nya untuk melaksanakan sholat sunnat sesuai aturan mereka. Selain akan menambah pahala ber-ibadah, hal ini tentunya juga akan membuat kita semakin nyaman dan khusyuk dalam menjalankan ibadah.
Diluar dari itu semua, sama halnya seperti do’a-do’a kaum muslimin pada umumnya, saya dan keluarga merasa sangat bersyukur sekali, bahwasanya Allah SWT masih sangat berbaik hati dengan mempertemukan kami kembali dengan bulan Ramadhan-Nya yang penuh mukzizat ini.
Terus terang pengetahuan saya mengenai Agama, masih sangat kurang. Apa yang saya sampaikan hanyalah sebuah pemikiran dengan menggunakan nalar dan logika secara pribadi, tidak ada satupun niat dalam hati kecil ini untuk mempertentangkan apa yang sudah ditetapkan sebelumnya. Mohon pencerahan dari rekan-rekan sekalian jikalau terjadi salah persepsi tentang apa yang telah saya tuliskan diatas.
Jadikanlah Bulan Ramadhan kali ini menjadi “Bulan Ramadhan Keluarga yang Terbaik”, buatlah harapan-harapan menjadi kenyataan, bukan hanya sekedar angan-angan semata. Caranya adalah sebagai berikut: (1) Buatlah Allah SWT sebagai sumber dari semua harapan kita; (2) Selalu berprasangka yang baik kepada Allah SWT; dan yang terakhir adalah (3) Berusaha dan bekerja keras-lah untuk mewujudkan harapan menjadi kenyataan, karena sesungguhnya Allah SWT berkata: “Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya apabila ia memohon kepada-Ku”. (H. R. Muslim)
Manfaatkanlah Bulan Ramadhan ini untuk mendapatkan berkah sebanyak-banyaknya melalui “Blog”. Semoga bermanfaat dan selamat menjalankan ibadah puasa hari Pertama!….
Setahun yang lalu saya pernah diundang sebagai nara sumber sebuah acara menyambut bulan Ramadhan, yang bertajuk “Indahnya Puasa” oleh sebuah stasiun televisi (TV) swasta yang tergolong masih baru (masih siaran percobaan) namun menurut saya cukup prospektif, yaitu Televisi Nusantara (TVN) yang Production House (PH) nya berlokasi di Cikarang, Jawa Barat.
Mungkin anda berpikir kok jauh sekali yach PH-nya? Padahal kantor pusatnya ada dikawasan sentra bisnis ternama di Jl. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta. Sebenarnya bukanlah hal yang aneh mengapa Cikarang yang dipilih oleh TVN sebagai salah satu markas mereka.
Hal ini tentunya terkait dengan rencana pemerintah yang akan menjadikan kawasan Cikarang, tepatnya di Jababeka II, sebagai “The first one stop film and TV industry centre in Indonesia” atau nantinya akan lebih dikenal dengan sebutan “Hollywood-nya Indonesia” (informasi lebih lengkapnya bisa anda lihat pada link diatas, yaitu saat saya menghadiri launching acara tersebut).
Acara tersebut tayang sambil menunggu Adzan Maghrib terjelang. Bersama komedian senior, mas Unang, selebritis cantik dan tersohor, mba Devi Permatasari), dan jebolan Akademi Pelawak Indonesia (API) Ragil (Indra) yang kocak abis serta dengan di iringi oleh “Simple Band” yang saat ini (mungkin) sudah hampir menelorkan dua album sebagai guest star-nya, menjadikan acara tersebut semakin hidup dan penuh warna.
Dikemas dalam sebuah tema acara yang menarik (menurut saya), yaitu “Hemat Bukan Pelit”, menjadikan tayangan pada episode tersebut menjadi lebih bermakna, dimana kita bisa belajar “sesuatu” hal yang positif, sambil menunggu waktu “ngabuburit” serta menanti suara bedug maghrib mulai berkumandang yang menandai saatnya berbuka puasa.
Sekilas, sebagian orang awam mungkin berpendapat bahwa orang hemat itu sama dengan pelit, tidak keliru memang, karena mereka hanya melihat dalam satu sudut pandang yaitu “efisien dalam mengeluarkan uang”, namun jika kita kaji lebih mendalam ternyata hemat itu sama sekali berbeda dengan pelit, mengapa demikian? berikut ini adalah analogi yang dapat saya sampaikan:
Pelit:
Saat kita memiliki kesempatan untuk menggunakan berbagai macam alternatif transportasi umum (misalnya: taxi, busway, bajaj, ojek motor, mikrolet, dsb) untuk pergi kesebuah lokasi, kita akan memilih transportasi umum yang paling sedikit mengeluarkan biaya(misalnya: mikrolet), tanpa mempertimbangkan aspek kebutuhan serta manfaat yang akan kita terima dari pilihan kita tersebut.
Seorang yang pelit, berusaha untuk tidak mengeluarkan uang, meskipun untuk diri sendiri, apalagi jika harus mengeluarkan uang untuk kepentingan orang lain (sering disebut sebagai orang yang kikir).
Hemat:
Saat kita memiliki kesempatan untuk menggunakan berbagai macam alternatif transportasi umum (misalnya: taxi, busway, bajaj, ojek motor, mikrolet, dsb) untuk pergi kesebuah lokasi, kita akan memilih transportasi umum yang paling sedikit mengeluarkan biaya (misalnya: mikrolet), namun tetap dengan mempertimbangkan aspek kebutuhan serta manfaat yang akan kita terima dari pilihan kita tersebut (proporsional)
Seorang yang hemat, mungkin saja akan memilih naik taxi ketimbang mikrolet, jikalau dirasakan ada faktor-faktor tertentu (dengan menggunakan logika) yang jika dengan menggunakan taxi manfaat yang di dapatkan sesuai dengan tingkat kebutuhannya pada saat itu (misalnya: harus menghadiri undangan pejabat, terkait dengan kenaikan pangkat-nya).
Seorang yang hemat, rela mengeluarkan uang Rp. 1.000.000 untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan manfaat yang di inginkannya, namun ia tidak akan rela mengeluarkan uang, meskipun hanya Rp. 1.000 untuk sesuatu hal yang sama sekali tidak dibutuhkan.
Berdasarkan analogi yang saya sampaikan tersebut, bisa disimpulkan bahwa definisi hemat dan pelit kurang lebih adalah sebagai berikut:
Pelit:
Tidak ada pengeluaran untuk orang lain, apalagi jika dirasa pengeluaran yang dilakukan tidak akan mendatangkan manfaat baginya (bersifat egosentris).
Orang pelit cenderung sombong, karena sifat dasarnya yang sangat egosentris tadi, mementingkan diri sendiri, tidak pernah memikirkan bagaimana nasib orang lain meskipun bisa membantu.
Jika menggunakan sesuatu (listrik, air, dsb) dipakai sesedikit mungkin, tanpa mempertimbangkan aspek lainnya (logika berpikir).
Salah satu ciri orang yang pelit adalah tidak memiliki teman, karena biasanya mereka sangat khawatir dimintai pinjaman uang oleh temannya tersebut.
Hemat:
Menggunakan sesuatu (uang) dengan cermat dan berhati-hatiagar tidak lekas habis.
Tidak ada pengeluaran untuk hal-hal yang tidak sedang dibutuhkan, bisa menempatkan setiap pengeluaran sesuai dengan porsinya (proforsional).
Hemat merupakan sikap dasar yang dalam memanfaatkan sesuatu akan dilakukan secara efektif dan efisien.
Jika menggunakan sesuatu (listrik, air, dsb) dipakai seperlunya (sesuai dengan kebutuhan), karena biasa berpikir dengan menggunakan logika
Salah satu ciri orang yang hemat adalah sudah memiliki tabungan
Sementara itu jika kita coba mengkaji lebih dalam lagi, HEMAT menurut ALQUR’AN adalah sebagaimana sudah disampaikan melalui Surat Al-Furqan, ayat ke 67, yang mengatakan sebagai berikut:: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.”.
Sedangkan HEMAT menurut HADITS, adalah sebagaimana disampaikan melalui HR. Ahmad yang menyatakan sebagai berikut: “Allah akan memberikan rahmat kepada seseorang yang berusaha dari yang baik, membelanjakan dengan pertengahan, dan dapat menyisihkan kelebihan untuk menjaga pada hari dia miskin dan membutuhkannya. Dan “Tidak akan miskin orang yang bersikap pertengahan dalam pengeluaran.”
Salah seorang sastrawan ternama di Indonesia, Buya Hamka (Alm.), juga pernah melakukan pendefinisian terhadap HEMAT dan PELIT, yaitu sebagaimana disampaikan sebagai berikut: “Jangan serupakan diantara Hemat dan Bakhil (Pelit), karena orang yang hemat memperhitungkan perbelanjaannya, uang masuk dan uang keluar dengan tujuan apabila perlu dapat membelanjakan harta itu menurut yang sepatutnya. Tetapi orang yang bakhil mengumpulkan harta dengan tujuan semata-mata hanya menumpuknya. Orang yang Hemat mengatur hartanya, orang yang Bakhil (Pelit) diatur oleh hartanya“.
Demikian sedikit ulasan saya mengenang bulan Ramadhan tahun lalu (2008), tulisan diatas tidak bermaksud untuk menggurui, dan hanya sekedar sharing diantara kita sebagai sesama blogger, semoga bisa bermanfaat buat kita semua, Amin.
Terkait dengan bulan Ramadhan yang akan kita jalankan esok hari, maka dalam kesempatan yang sangat baik ini, dengan segala kerendahan hati serta keikhlasan,kami sekeluarga ingin mengucapkan: “MARHABAN YA RAMADHAN,MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN” atas semua kekhilafandan kelalaianyang pernah kami lakukan, baik itu secara langsung maupun tidak langsung (termasuk melalui dunia maya), semoga Allah berkenan mengampuni semua dosa-dosa kita semua dan memberikan Barokahnya di Bulan yang penuh Hikmah ini.
Awalnya, menjadi seorang blogger adalah bukan impian saya, semua mengalir begitu saja, hingga pada akhirnya dengan cukup bangga (baca: pede) saya mengatakan bahwa diri saya ini adalah seorang blogger, meskipun hanya sebagai “blogger kelas pekerja”.
Belajar membuat sebuah tulisan (artikel) pun biasanya saya lakukan dalam kondisi yang sangat terpaksa, yakni karena tugas-tugas kuliah yang mengharuskan demikian. Justru dari kondisi terpaksa itulah yang akhirnya menjerumuskan saya lebih serius untuk menekuni dunia tulis-menulis (baca: ngeblog).
Sebagai seorang pemula yang ingin belajar menjadi penulis, rasanya terlalu tinggi memang kalau berharap tulisannya bisa dimuat pada sebuah harian surat kabar terkemuka di ibukota, yang bernama “Harian Kompas”, yang hingga saat ini (menurut saya) masih dijadikan sebagai tolak ukur keberhasilan para penulis, jika berhasil menembusnya.
Selain kasus Manohara, maraknya pemberitaan mengenai kepulauan Ambalat belakangan ini telah memicu ketegangan yang terjadi antar dua negara, yakni Indonesia dan Malaysia. Menurut saya, bagaimanapun juga, kasus Ambalat ini jauh lebih penting ketimbang nasib tragis yang “katanya” telah menimpa sang wanita cantik nan sexy yang bernama lengkap Manohara Odelia Pinot.
Ada banyak pendapat, baik dari masyarakat umum maupun para pejabat yang menginginkan agar Indonesia memerangi Malaysia untuk membuktikan kedaulatan Indonesia atas blok Ambalat yang banyak mengandung kekayaan alam tersebut.
Secara emosional dan dengan melihat fakta yang ada, awalnya sayapun berpendapat bahwa Malaysia memang sudah benar-benar keterlaluan, bahkan terkesan melecehkan kedaulatan wilayah bangsa Indonesia, oleh karena itu sudah sewajarnya pula jika diberikan pelajaran, bahkan dengan cara “perang” sekalipun.