Penyakit itu kembali “terwariskan”….
Setiap pulang kantor biasanya kami disambut dengan senyum dan sapaan khas darinya. Meskipun sapaannya masih terdengar samar-samar dan tak begitu jelas, namun kami yakin saat itu dia sedang berusaha untuk memanggil “Ayah, Bunda”, sambil langsung berlari-lari meminta dipeluk.
Sapaannya selalu membuat rasa penat kami yang seharian sibuk bekerja dan selalu berkutat dalam kemacetan lalu lintas perjalanan Bekasi-Jakarta-Bekasi yang teramat pekat, luluh secara tiba-tiba, bahkan selalu berganti menjadi sebuah keceriaan yang tak terkira.
Memang tak seperti biasanya, sore menjelang malam itu (11/09/08), ketika kami pulang kantor tak terdengar sapaan khasnya, kami hanya berpikir “barangkali ia sedang tertidur pulas dikamar”. Namun saat masuk kamar, kami dapati ia sedang terbaring tidur dengan mata tak terpejam, sambil menahan kesakitan akibat “flu dan batuk” dengan detak nafas yang berpacu begitu cepat.



